Minggu, 24 Agustus 2008


Dampak Berbagai Harokah Islamiah Bagi Perkembangan Dakwah
Di Pulau Bali

Oleh : Puguh WP, S.KH
A. Latar Belakang

Daerah seribu pura, merupakan kata-kata yang tepat diberikan untuk pulau Bali. Karena merupakan suatu hal yang nyata bahwa di pulau Bali adalah basis dari salah satu agama yang diakui oleh Negara Republik Indonesia, yakni agama Hindhu. Hal ini dikuatkan dengan data statistik bahwa hampir 90% dari keseluruhan penduduk Bali adalah pemeluk agama hindhu. Disamping itu kekuatan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Bali merupakan suatu nilai tambah tersendiri dalam tetap exsisnya Hindhu Bali meskipun agama ini merupakan agama yang sangat kecil jika dikonversikan dengan agama islam secara nasional.

Di sisi lain perkembangan dakwah islam juga tidak kalah pesatnya, berbagai sistem, wajihah dan pergerakan islam tumbuh dan berkembang di Indonesia secara umum. Hal ini tidak luput dari perjalanan sejarah umat islam di Indonesia dimana dalam perjalanannya umat islamlah yang mengukir sejarah kemerdekaan Republik Indonesia ini. Berangkat dari situlah kebesaran dan kekuatan islam tidak dapat dipungkiri lagi di indonesia, karena hampir 95% penduduk Indoensia adalah memeluk agama Islam. Permasalahan justru muncul dari sana, dimana dari kekuatan tersebut muncul dan berkembanglah berbagai macam aliran gerakan Islamiah yang mana dengan banyaknya berbagai gerakan dakwah tersebut kekutan islam menjadi terpecah sehingga dengan kondisi seperti ini sangat rawan sekali terhadap infeksi dan gelombang pemberontakan dari luar.

Komunitas pemeluk agama Islam khususnya di pulau Bali sebagaian besar adalah penduduk non pribumi khususnya berasal dari daerah tetangga yakni Jawa (Banyuwangi) dan Pulau Lombok. Hal ini terbukuti dengan masih sedikit terciumnya kebudayaan-kebudayaan islam di Bali dengan budaya-budaya dari Jawa, seperti Islam didaerah Singaraja, Denpasar, Jembrana, Tabanan ataupun dari pulau Lombok seperti daerah Karangasem, Klungkung dan sebagainya.

Merupaka suatu kewajaran ketika suatu keolompok yang minoritas berada pada lingkungan yang mayoritas maka, disana akan muncul berbagai permasalaha-permasalahn yang tentunya berkaitan erat dengan keberlangsungan dakwah Islam. Mengacu pada berbagai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh masyarakat Bali dalam hal ini adalah pemeluk agama Hindhu dengan budaya khas Balinya serta kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Islam dengan tanpa mengesampingkan asal pemeluk Islam itu sendiri (baik dari jawa maupun dari pulau Lombok) maka munculah beberapa pertanyaan besar yang antara lain seperti :
1. Apa yang dapat dilakukan oleh Islam khususnya di Bali untuk keberlangsungan Dakwah Islam dengan kondisi heterogennya aliran gerakan Dakwah dengan tanpa mengesampingkan umat Islam yang minoritas di Pulau Bali ini
2. Seberapa besar peran pihak kampus dalam hal ini mahasiswa Islam yang selayaknya sebagai suatu agen penetral terhadap kondisi heterogennya gerakan dakwah


B. Tujuan Dan Manfaat
Pembuatan makalah ini bertujuan sebagai salah satu bentuk refleksi pemikiran terhadap seberapa pontensialnya masa depan Dakwah Islam di pulau Bali ini dan pemberian suatu wacana terhadap aktivis dakwah kampus khususnya sehingga setidaknya memiliki ”kesadaran posisi” sehingga tidak kehilangan arah dalam berjalan dijalan dakwah Islam.

Terbukanya wacana baru terhadap kondisi dakwah di Pulau Bali merupakan harapan besar bagi penulis sehingga setidaknya dalam melangkah dijalan dakwah Islam yang mulia ini tidak membabi buta dan dapat menjalakanya dengan cerdas dan ikhlas.

PEMBAHASAN

Pada prinsipnya sudah jelas diterangkan dalam Al-qur’an bahwasanya tidak ada suatu paksaan dalam ber-Islam, akan tetapi Alloh SWT juga menerangkan dalam Al-qur’an bahwasanya terdapat kriterua-kriteria orang yang berhak untuk mendapatkan nikmat dari-Nya. Sebagaimana Alloh menerangkan dalam Firman-Nya :”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam);sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (al-baqoroh 256). Dalam ayat yang telah tersebut diatas sudah sangat jelas bahwa sebenarnya bukan Alloh SWT yang membutuhkan yang butuh dengan ibadah-ibadah kita (umatnya/manusia), akan tetapi kitalah sebgai manusia ciptaan Alloh SWT yang selayaknya menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh-Nya dan menjauhi segala apa yang menjadikan larangan-Nya. Salah satu perintah dari Alloh SWt adalah kewajiban kita untuk menyerukan kebaikan dalam hal ini lebih populer kita sebut sebagai ”dakwah” karena hanya dengan melkasanakan perintah-perintah-Nyalah kita dapat memberikan sesuatu alam transaksi jual beli dengan Alloh SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-qur’an yang artinya ” Wahai orang-orang yang beriman ! maukah kamu Aku tunjukan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?? (yaitu) kamu beriman kepada Alloh SWT dan Rasul-Nya berjihad dijalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya”. (As-Saff 10-11).
Menjadi sebuah kewajaran ketika setiap orang memliki pemahaman yang berbeda mengenai perintah untuk mnyeru ke jalan Alloh (berdakwah), dan masalah furu’ menurut imam syahid hasan al-banna dalam bukunya Risalah pergerakan I mengatakan bahwa musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin adalah perpecahan dan kamipun menyakini bahwa apa yang membuat kaum Muslimin menang kembali adalah cinta kasih dan persatuan. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya. Inilah prinsip dasar dan sasaran yang harus diketahui oleh setiap muslim. Disamping itu menurut Hassan al-banna dalam bukunya yang sama menyebutkan bahwa permasalahan furu’ merupakan suatu hal yang niscaya, mustahil manusia dapat bersatu dalam masalah-masalah tersebut karena ada beberapa alasan sebagai berikut : (a) Perbedaan kapasistas intelektual dalam memahami dan menangkap kedalaman makna dalil serta dalam mengambil keputusan hukum. Padahal agama Islam adalah agama yang bersumber dari al-qur’an dan hadist yang kemudian diinterpretasi oleh akal manusia berdasarkan struktur bahasanya. Dan yang secara umum kita ketahui, terdapat perbedaan kapasitas intelektual yan sangat bervariasi di kalangan manusia,sehingga perbedaan diantara mereka itu niscaya adanya (b) Perbedaan dalam hal keluasan ilmu para ulama. Maka sangat mungkin ada suatu hadist atau ilmu tertentu yang sampai kepada ulama tertentu dan belum sampai kepada ulama yang lainnya. Begitu seterusnya sehingga Imam Malik berkata kepada Abu Ja’far, ”Sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW telah mendatangi seluruh kota dan setiap kaum itu memiliki ilmu tertentu. Maka jika seseorang ingin menggiring mereka pada satu pendapat, niscaya upaya itu hanya akan menimbulakan fitnah”. (c) Perbedaan lingkungan yang antara lain menyebabkan terjadinya perbedaan dalam pola penerapan hukum. Itulah yang menyebabkan Imam Syafi’i memberikan fatwa lama (qaul qadim) di Irak kemudian memunculkan fatwa baru (qaul jadid) ketika beliau berada di Mesir.Yang beliau lakukan dalam hal ini tidak lebih dari memutuskan hukum berdasakan dalil yang cukup kuat menurut beliau, disamping itu beliau juga memilih yang paling tepat dan maslahat sesuai dengan kondisi kedua kota tersebut. (d) Perbedaan ketenangan hati dalam menerima suatu riwayat. Maka terkadang anda melihat perawi tertentu dianggap ”tsiqoh” oleh Imam fulan dan karenannya andapun menerimanya sementara tidak demikian menurut ulama yang lainnya, karena informasi tertentu yang mungkin tiak diketahui oleh yang pertama. (e) Perbedaan dalam menentukan tingkat kekuatan dalil kepada hukum tertentu. Maka mungkin ada ulam ayang mendahulukan perbuatan sahabat atas khabar ahad (hadist yang diriwatkan oleh satu orang), sementara yang lain tidak melihat demikian.
Dengan kondisi yang serba majemuk inilah sebenarnya umat Islam membutuhkan suatu bentuk persatuan umat sehingga kebangkitan Islam dapat terwujud. Kondisi justru berbalik 180O umat Islam pada saat ini justru sibuk dengan perbedaan-perbedaan yang, perbedaan-perbedaan yang sebenarnya tidak layak untuk diperdebatkan bahkan yang lebih ekstrim terjadi gesekan-gesekan memanas yang mungkin hanya karena perbedaan madzab atupun fikih saja. Hal ini sangat disayangkan karena kita justru telah mengesampingkan agenda besar kebangkitan umat Islam.
Di pulau Bali dengan kondisi yang ada pada dasarnya dapat dilakukan suatu upaya untuk men”sinkronkan” gerak dakwah dari setiap harokah yang ada. Artinya apa, ketika menyangkut masalah furu’ dan memang tidak bisa diganggu gugat lagi seperti yang telah disebutkan diawal tadi, akan tetapi setikdaknya semua masih memiliki suatu bentuk keterikatan yakni keterikatan aqidah terhadap Alloh SWT. Dalam tataran teknis menyangkut masalah tersebut diatas meskipun penyatuan gerakan dirasa tidak mungkin dilakukan, hal kecil yang memiliki imbas besar terutama bagi keberlangsungan perkembangan Islam ini di bali adalah selayaknya tiap aliran gerakan dakwah tersebut tetap harus menjaga dan mengamalkan nilai-nilai aqidah yang telah Alloh perintahkan kepada kita semua sebagai umat-Nya. Contoh sederhana adalah dengan memakmurkan masjid sebagi pusat aktivitas dan kegiatan keseharian, karena dengan hal ini kita sebagai umat Islam setidaknya mampu menunjukan betapa besar dan penting Ukhuwah dalam Islam sehingga orang yang melihat terutama orang-orang yang masih bimbang dijalan Islam ataupun orang-orang non muslim mampu memberikan suatu penilaian yang positif terhadap Islam itu sendiri. Kedua adalah dengan cara menjadikan pribadi-pribadi muslim tersebut sebgaai tauladan dalam segala segmen aktivitas keseharian baik itu dalam dunia kerja, pergaulan dan sebagainya misalnya dengan bekerja tepat waktu, jujur, dapat dipercaya, sehingga lagi-lagi penilaian yang positif terhadap pribadi-pribadi muslim dapat kita kantongi. Hal ini membutuhkan kebesaran hati bagi setiap pribadi yang mengikrarkan dirinya sebagai seorang muslim untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya dengan sedikit menekan kesombongan hati yang ada, karena tidak sedikit harokah-harokah Islam yang ada justru bukan memberikan suatu tauladan bagi umat akan tetapi malah menjadi pusat pembicaran yang jelek oleh masyarakat dan hal ini sangat wajar berlaku di Pulau Bali karena keberadaan kita yang minoritas menjadikan kita (umat Islam) menjadi pusat perhatian bagi seluruh umat yang ada di pulau Bali baik itu dari kalangan Hindhu, Budha, Krinten dan sebagainya. Ketiga, Adalah senantiasa melakukan evaluasi besama dengan seluruh harokah-harokah yang ada untuk mengetahui sejauh mana kontribusi yang telah diberikan bagi keberlangsungan dakwah Islam di Bali, sehingga jalan dakwah yang sudah mulai terseok dapat kembali lurus dengan media evaluasi tersebut.
Mahasiswa dengan segala label yang melekat padanya mepunyai posisi strategis dalam masalah ini, karena lagi-lagi mahasiswa menempati suatu segmen yang netral artinya tidak banyak interfensi dan sangkut pautnya terhadap berbagai kepentingan. Namun yang menjadi permasalahan sekarang mahasiswa yang mengklaim dirinya sebagai sosok yang idealis, independent, perannya sebagai sebuah kekuatan oposisi (netral) menjadi terhamburkan karena fenomena-fenomena yang muncul pada berkaitan dengan mahasiswa justru berkata sebaliknya.
Dalam sebuah bukunya Hasan Al-Banna mengatakan bahwa pemuda dalam hal ini mahasiswa merupakan pilar kebangkitan umat, karen adalam diri pemuda senantiasa melekat keimanan, ikhlas, semangat dan amal. Sebagaimana dalam firman-Nya : ”sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk”. (Al-kahfi 13). Dari ayat ini pula sudah cukup jelas bahwa mahasiswa dengan otak raksasanya memiliki kemamapuan dan peluang besar terhadap penentuan arah gerak dakwah Islam ini sehingga menuju suatu bentuk kehidupan Islami yang sohe’h.
Lagi-lagi permasalan muncul dari sana, mengacu pada kebanyakan fenomena yang ada pada saat ini berbagai label dan sebutan yang telah disebutkan diatas untuk mahasiswa serasa tidak layak lagi, karena justru sebagaian besar dari mahasiswa muslimjustru menjadi pegiat-pegiat hedonisme dan isme-isme yang lainnya yang sebenanya semua itu adalah tidak layak dilakukan oleh mahasiswa muslim. Belum lagi pengaruh dari kondisi kehidupan sosial budaya diBali yang telah mengadopsi budaya-budaya barat dengan wisatawan-wisatawan sebagai agennya. Dari sinilah sebenarnya perlu dilakukan suatu tindakan pembaharuan dan penyadaaran terhadap mahasiswa khsusnya mahasiwa muslim untuk kembali kepada Islam secara syamil. Setelah tindakan penyadaran dilakukan maka suatu langkah pembinaan sangat penting juga untuk dillakukan sebagai upaya untuk mnesinkronkan dan menyeragamkan bahwa gerakan tauhidulloh sangat penting sekali untuk dilakukan terkait dengan gambaran umat pada saat sekarang ini.
Setelah beberap hal tersebut dapat berjalan maka aplikasi lapanganpun akan dapat dengan mudah dilakukan, tinggal memikirkan tataran teknisnya seperti apa. Peran mahasiswa yang menempati posisi midle dalam strata sosial masyarakat diharapkan dengan terbentuknya pribadi-pribadi mahasiwa muslim yang sohe’h dapat mengakat para masyarakat yang menempati posisi grass root untuk naik kedalam posisi menengah dengan segala kefahaman, kecerdasan dan keintektualannya dalam menjalankan syari’at Islam yang lurus dan benar. Sehingga ketika hal itu semua dapat berjalan secara baik dan berkesinambungan, maka kejayaan dakwah Islam di Pulau Bali ini akan berada digenggaman tangan kaum mukminin sebagai bentuk pengabsian terhadap Alloh SWT.

Tidak ada komentar: